Diakhir tahun 2019 ini, karepnya itu Saya bisa terbebas dari yang namanya keluhan, sambatan, dan keresahan.

Tapi nyatanya masih sama… malah ada banyak hal yang menjengkelkan dalam kehidupan saya akhir-akhir ini, ntah itu dari diri sendiri, karena Teman, ataupun orang sekitar.

Tapi yo wiss lah, namanya juga hidup, tidak bisa kalau meh seneng terus utowo bahagia terus… tidak mungkin!

16 Desember, artinya setengah perjalanan di bulan Desember ini sudah terlewati, dan artinya lagi tahun 2019 hampir berganti ke tahun 2020. Tapi, sayangnya masih banyak orang-orang tukang ngurikki dengan kedok kerjasama, tukang ngurikki dengan kedok bagi hasil, dan yang paling njengkelke itu tukang ngurikki dengan kedok kolaborasi.

Tahun semakin maju tapi pemikiran semakin kebelakang, nek ngendikane Kiyai saya nyebute “Nggong stupid” hahaha, lha pie dadi wong kok senengane ngurikki sing ngisor.

“Eh kamu kan pinter ndisen, mbok kita kolaborasi yokk”
Saya bosen dengan kalimat seperti ini, lebih bosen dari chat wassap yang isinya cuma tanya “sampun maem?”

Saya bukan tipe orang yang seneng kolaborasi (untuk saat ini), kalau memang pengen disen (hand lettering) ya mbok tumbas, mesen di Saya gitu. Tak buatin sing bagus, ning mbayar! Tapi emoh nek mbayare mung 2M=Makasih Mas :(

Mereka (orang-orang pinter) biasane sok ngurikki bawahane, contoh korbannya saya. Ngomong diawal kerjasama, bagi hasil, atau kolaborasi, tapi pada akhirnya yaa begitu… mereka yang seneng saya yang sedih, mereka yang kepenak saya yang ngrekoso.

Pertanyaan
Lha nek ngono iku hukume pie? Opo mereka itu gak mikir doso barang?”
Jawaban
Doso orane kui urusane Pengeran. Ora mikir doso? Heh takandyani, wong-wong koyo ngono kui blas rawedi mbe doso (Pengeran), wong-wong tukang politik kui mung wedi karo hukum.

Salah satu contoh kasus
Pernah suatu ketika Saya disuruh mbuat disen kaos. Nah karna saat itu yang minta orang dalem, yaawes tak gawekke, tak rewangi lembur barang.

Dalam hati berharap (sitik) mugo-mugo disene dibayar, tapi tekan nggone bablas. Saya wis paham dengan wong-wongan koyo iki (ngalamat diurikki), jadi Saya mikire nek dibayar tak tampani nek ora yo pancen bajigur tenan…

Beberapa hari kemudian oleh kabar bahwa disen kaose diperjualbelikan dan mereka mendapat keuntungan tanpa sepengetahuan saya :( cuk tenan!

Mereka kurang bisa transparan, atau bahkan blas tidak transparan. Mem-politiki kalangan bawah dengan dalih kolaborasi, hashhh ramashook pokokke

Itu hanya satu contoh saja, aslinya masih ada banyak lagi kasus yang lainnya. Pengennya sih juga tak tulis sebagai contoh kasus, tapi takutnya orangnya kepanasan dan saya juga takut timbul perpecahan wkwkwk. Biarkan mereka mbatin saja, nek kroso yo hamdalah nek ora yo kebangeten -_-

Inti dari tulisan ini yaitu saya kerep diurikki nek babagan disen

Ayolah lur sedulur, akeh Artist lokalan sik ora maju yo mergo wong-wongan sontoloyo ngono kui. Pengen oleh penakke tapi ora gelem kelong duite (tidak mau men-support)

Rausah harga teman, rausah harga seduluran, nek ancene pengen disen ya tumbas! Dengan anda membeli sebuah produk, karya, atau jasa itu artinya anda sudah ikut membantu men-support teman anda

“Support Your Local Artist”